Sirna Ilang Kertaning Bhumi, Sejarah Keruntuhan Majapahit Yang Sebenarnya Di Telan Bumi?

 Nama brhe kerthabhumi inilah yang diabadikan dalam sengkalan “ilang kerthaning bhumi” dan diyakini sebagai akhir kerajaan majapahit. Benarkah? mari kita periksa.

Sengkala berasal dari kata “saka kala” (tahun saka) yang diberi imbuhan – an kemudian menjadi sengkalan. Sengkalan didefinisikan sebagai angka tahun yang dilambangkan dengan kalimat, gambar, atau ornamen tertentu. Bangsa barat menyebutnya sebagai kronogram. Mengapa untuk menyebut angka tahun digunakan kalimat ? Sebab, para leluhur kita memaksudkannya agar para generasi penerus mudah mengingat peristiwa yang telah terjadi pada tahun yang dimaksud. Jadi, sengkalan punya dua maksud : angka tahun, dan peristiwa apa yang terjadi tahun itu. Saya pikir ini suatu cara yang sangat cerdas warisan leluhur.

Karena tahun Caka/Syaka/Saka menggunakan garis edar Matahari sebagai refererensi, maka suka disebut surya sengkala. Kalau tahun Jawa atau tahun Hijriyah, maka suka disebut candrasengkala karena menggunakan garis edar Bulan sebagai referensi (candra = Bulan).

Sengkalan menggunakan kalimat sebagai angka, maka kata-kata tertentu punya “watak bilangan” atau “watak kata-kata” masing2. 

Angka 1 : benda yang jumlahnya hanya satu, benda yang berbentuk bulat, manusia.

Angka 2 : benda yang jumlahnya ada dua, misalnya tangan, mata, telinga.

Angka 3 : api atau benda berapi.

Angka 4 : air dan kata-kata yang artinya “membuat”.

Angka 5 : angin, raksasa, panah.

Angka 6 : rasa, serangga, kata-kata yang artinya “bergerak”.

Angka 7 : pendeta, gunung, kuda).

Angka 8 : gajah, binatang melata, brahmana.

Angka 9 : dewa, benda yang berlubang.

Angka 0 : hilang, tinggi, langit, kata-kata yang artinya “tidak ada”.

Aturan lainnya adalah dalam sengkalan kata terakhir di kalimat sengkalan menjadi angka urutan pertama, sedangkan kata pertama di kalimat sengkalan menjadi angka urutan terakhir pada tahun sengkalan.

Mari kita analisis “Sirna Ilang Kertaning Bumi”. Bila dilihat watak kata-kata dan watak bilangannya, maka “sirna” = hilang = angka 0, “ilang = hilang” angka 0, “kertaning/kerta ning” = dibuat = pekerjaan membuat = angka 4, “bumi/bhumi” = bumi = angka 1. 

Maka Suryasengkala “Sirna Ilang Kertaning Bumi” = 0041, ingat aturan sandi sengkalan, maka tahun yang dimaksud dengan “Sirna Ilang Kertaning Bumi” adalah 1400 Caka atau 1478 M. Sengkalan “Sirna Ilang Kertaning Bumi” dimaksudkan pengarang Babad tanah Jawi untuk menggambarkan runtuhnya/hilangnya Kerajaan Majapahit pada tahun 1400 Caka atau 1478 M.

Ada yang menarik di sini : “Kertaning Bumi” Kerta/Karta = dibuat/dijadikan. Misalnya : Jayakarta = dibuat jaya/berhasil, Yogyakarta = dibuat baik (seyogyanya = sebaiknya). Maka, “kertaning Bumi” terbuka untuk ditafsirkan “dibuat (oleh) Bumi” atau “dibuat (di) Bumi”. Kata “ning” dalam bahasa Kawi bisa banyak punya arti sebagai kata depan atau kata pembuat kata kerja.

Apakah “Sirna Ilang Kertaning Bumi” bisa ditafsirkan “Hilang Musnah Dibuat Bumi” ? “Dibuat Bumi”, kita bisa menduganya : bencana alam besar dari Bumi. 


Kalau dikaitkan pada Pararaton, bencana itu adalah Pagunung Anyar alias erupsi gununglumpur. Apakah bencana ini yang meluluh lantakkan majapahit hingga tak berbekas, hingga pusat pemerintahannya berpindah ke daha? sehingga surya sengkala ini tidak dimaksudkan menunjuk keruntuhan majapahit secara menyeluruh, melainkan bencana besar yang menyebabkan keruntuhan kota pusat pemerintahan majapahit. Wallahu a’lam.

-- 

Dan terbukti Pada tahun 1513 Tomé Pires dari Portugal mengunjungi Jawa, dan majapahit masih eksis, berpusat di daha. dalam catatannya nama raja majapahit saat itu adalah Batara Vojyaya atau Batara Vigiaja yang istananya terletak di Dayo, ungkapan tersebut merupakan ejaan Portugis untuk Bhaṭāra Wijaya yang bertakhta di Daha (sekarang Kediri).[1]  nama Bhaṭāra Wijaya yang dicatat Tomé Pires sebagai Batara Vojyaya atau Batara Vigiaja di tahun 1513 sama dengan Bhaṭāra Prabhu Dyah Raṇawijaya yang mengeluarkan prasasti Pĕṭak dan Jiyu di tahun 1486.[2]

Tomé Pires menyebutkan bahwa Batara Vojyaya adalah keturunan Batara Sinagara. 

Dalam Serat Pararaton disebutkan, Sang Sinagara memiliki empat anak, yaitu Bhre Kahuripan, Bhre Mataram, Bhre Pamotan, dan Bhre Kṛtabhumi. Mereka berempat meninggalkan istana di tahun 1468 saat paman mereka, yaitu Bhre Paṇḍansalas alias Dyah Suraprabhāwa baru berkuasa dua tahun.

Para pujangga Jawa era Mataram Islam dalam Babad Tanah Jawi menyebut raja terakhir Majapahit bernama Prabu Brawijaya, kemungkinan sama dengan Bhaṭāra Wijaya yang dicatat Tomé Pires (1513). Naskah Purwaka Caruban Nagari (1720) menyebut nama lengkap Prabu Brawijaya Kĕrtabumi. 

Gelar Bhre Kĕrtabumi terdapat dalam Serat Pararaton (1613) yaitu nama anak bungsu Sang Sinagara. Jika Bhre Kĕrtabumi dianggap sama dengan Prabu Brawijaya, itu berarti sama juga dengan Bhaṭāra Prabhu Dyah Raṇawijaya yang berkuasa di Daha. Itu artinya, Dyah Raṇawijaya adalah anak bungsu Sang Sinagara.

Anak-anak Sinagara juga tercatat dalam Kakawin Banawa Sekar, yaitu Śrī Naranātha ring Kahuripan, Śrī Parameśwareng Lasĕm, Śrī Nṛpati Pamotan, Śrī Naranātha ring Mataram, dan Śrī Nātheng Kṛtabhumi. Kakawin Banawa Sĕkar ditulis oleh Mpu Tanakung yang mengisahkan upacara Śrāddha untuk orang tua mereka. Jika Sang Sinagara meninggal di tahun 1453, maka upacara tersebut tentunya dilaksanakan di tahun 1465, yaitu pada masa pemerintahan Bhra Hyang Pūrwawiśeṣa alias Dyah Suryawikrama (sebelum Bhre Paṇḍansalas).

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa setelah terjadi kekosongan selama tiga tahun, Bhre Wĕngkĕr alias Girīśawardhana naik takhta dengan gelar Bhra Hyang Pūrwawiśeṣa. Saat itu anak-anak Sinagara dapat menerima. Namun, setelah Girīśawardhana wafat, Bhre Paṇḍansalas alias Dyah Suraprabhāwa naik takhta. Anak-anak Sinagara tidak terima dan mereka pergi meninggalkan istana.

Pada tahun 1478 anak-anak Sinagara memberontak pada kekuasaan Dyah Suraprabhāwa di Majapahit, pemberontakan tersebut dipimpin oleh Sang Munggwing Jinggan yang dibantu Brahmārāja Ganggādhara. Dyah Suraprabhāwa meninggal dalam istana. Setelah peristiwa tersebut anak Sinagara yang bernama Bhre Mataram alias Dyah Wijayakusuma menjadi raja yang bertakhta di Kĕling kemudian bergelar Bhre Kĕling. Adapun status Majapahit menjadi sederajat dengan Janggala dan Kaḍiri, yaitu berada di bawah Kĕling. Kemudian Dyah Wijayakusuma wafat jabatan Bhre Keling digantikan Dyah Raṇawijaya dan menyebut dirinya berkuasa atas Majapahit – Janggala – Kaḍiri.

_____

Tidak mudah, sebenarnya, mengurai benang kusut akhir majapahit. admin coba beberapa teori yang berkembang, antara lain:

Raja terakhir adalah Bhre Kertabhumi. Ia dikalahkan oleh Raden Patah. Setelah itu Majapahit menjadi bawahan Kesultanan Demak. Teori ini muncul berdasarkan ditemukannya kronik Cina dari Kuil Sam Po Kong Semarang. 

Raja terakhir adalah Bhre Kertabhumi. Ia dikalahkan oleh Girindrawardhana Dyah Ranawijaya alias Bhatara Wijaya. Teori ini muncul berdasarkan penemuan prasasti Petak yang mengisahkan pernah terjadi peperangan antara keluarga Girindrawardhana melawan Majapahit. 

Raja terakhir adalah Bhre Pandansalas yang dikalahkan oleh anak-anak Sang Sinagara. Teori ini muncul karena Pararaton tidak menyebutkan secara jelas apakah Bhre Kertabhumi merupakan raja terakhir Majapahit atau bukan. Selain itu kalimat sebelumnya juga terkesan ambigu, apakah yang meninggalkan istana pada tahun 1390 Saka (1468 Masehi) adalah Bhre Pandansalas, ataukah anak-anak Sang Sinagara. 

Teori yang menyebut Bhre Pandansalas sebagai raja terakhir mengatakan kalau pada tahun 1478, anak-anak Sang Sinagara kembali untuk menyerang Majapahit. Jadi, menurut teori ini, Bhre Pandansalas mati dibunuh oleh Bhre Kertabhumi dan sudara-saudaranya pada tahun 1478.

Ditinjau dari Serat Pararaton (1613) bahwa raja Majapahit yang meninggal di istana pada tahun 1478 adalah Bhre Paṇḍansalas paman Bhre Kṛtabhumi, dengan sengkalan berbunyi “sunya nora yuganing wong”. Jadi yang meninggal pada tahun 1478 adalah Bhre Paṇḍansalas alias Dyah Suraprabhawa bukan Bhre Kṛtabhumi atau Dyah Raṇawijaya. Sehingga dyah rana wijaya diyakini adalah raja terkhir majapahit.

Menurut Tomé Pires, saat itu Dyah Raṇawijaya hanya sebagai raja simbol belaka, karena yang berkuasa atas negara adalah Guste Pate Amdura (ejaan Portugis untuk Gusti Patih Mahodara). Berita ini diperkuat oleh catatan Duarte Barbosa dari Italia yang menyebutkan pada tahun 1518 yang berkuasa atas Jawa pedalaman bernama Pate Udra.

Kemudian setelah itu, menurut naskah lokal Babad Sĕngkala, majapahit yang ada di Daha baru ditaklukkan oleh Sultan Trenggana putra Raden Patah, pada tahun 1527. 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama